Tampilkan postingan dengan label Pelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Oktober 2012

Penasaran....

UTS semakin mendekat...tinggal seminggu lagi mahasiswa/i calom SKM akan menghadapi mid-test. Rasa-rasanya baru kemarin degh liburan semester dua berakhir kok sekarang udah kembali bertemu dengan yang namanya mid-tes.....:( berbicara tentang mid-test sih sebenarnya gak ada yang perlu ditakutkan kalau kita rajin membaca dan menulis.....:) tapi memang dibutuhkan trik-trik khusus menangani sindrom2 baru yang sifatnya datang dan pergi sebelum dan sesudah ujian, misalnya aja sindrom M (malas, mrengut, mumet, melek bengi) dll.........bahkan biasanya virus fotokopi pun semakin merajalela...fenomena yang ada di kampus saya nih, tempat fotopian laris manis diburu oleh mahasiswa, REJEKI NOMPLOK, kata bang2 fotokopian.

Senin, 27 Agustus 2012

Suka Duka dalam Mengajar

Mengajar. Satu kata yang memiliki beribu peran dan aktivitas di dalamnya. Mengajar tidak hanya memberika pelajaran, namun juga mengandung arti membimbing, menjadikan orang tidak tahu menjadi tau, mendidik, berbagi, dan beberapa arti yang lain. Saya pernah mendapatkan suatu pengalaman mengajar yang sangat berarti bagi saya. Saya kelas 3 SMA waktu itu dan ditunjuk oleh pengurus yayasan tempat saya belajar untuk mengajar baca tulis Al-Qur’an khusus anak-anak yang baru masuk ke yayasan itu.
Singkat cerita akhirnya saya pun menyanggupi permintaan dari yayasan dan mulai mengajar adik-adik kelas yang sangat beraneka ragam karakternya. Awalnya saya juga merasa canggung untuk mengajar dan sempat bingung bagaimana teknik mengajar yang benar, mengingat saya pada waktu itu masih dikategorikan juga sebagai siswa, bukan guru atau tenaga pendidik yang mungkin sudah mengikuti sertifikasi. Namun, saat itu prinsip saya adalah mengikuti pedoman atau acuan mengajar seperti yang guru-guru saya lakukan. Satu hal yang menjadi tantangan berat saya waktu itu adalah mengajar anak-anak yang memang baru pertama kali belajar. Selain itu juga waktu pembelajaran yang diadakan di pagi hari setelah sholat shubuh membuat makin banyaknya tantangan bagi saya dalam mengajar. Banyak anak didik yang waktunya untuk mengikuti pembelajaran BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) malah keasyikan tidur. Terlebih lagi ada satu anak yang masih kelas 1 SD dan susahnya minta ampun untuk diajari BTA. Waktu itu saya benar-benar hampir frustasi menghadapi anak-anak yang sangat susah diatur. Namun ternyata berbekal dengan pengalaman saya dulu sebagai murid yang menginginkan suasana berbeda dalam proses pembelajaran, akhirnya saya pun juga mencoba untuk membuat beberapa terobosan agar suasana dalam pembelaran lebih hidup dan tidak ada lagi yang tertidur. 

Mathematic Is Rollercoaster For Me

Matematika!!! Satu kata yang ketika disebutkan memberikan efek yang berbeda-beda pada tiap-tiap orang. Efek senang, takut, cemas, khawatir, sebel, bete, cinta, benci, dan sebagainya muncul ketika kata ini disebutkan. Yups, matematika memang seringkali menjadi dilema bagi beberapa orang, bahkan ada yang rela bunuh diri mengambil kelas IPS hanya untuk menghindari Matematika. 

Titik Temu Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Bahtsul Masail


Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Bagaimana bisa manusia mencari nafkah, mencari pekerjaan, memenuhi kebutuhannya untuk melanjutkan hidup tanpa pendidikan. Pendidikan bukan hanya berarti mengikuti proses pembelajaran di sekolah, tapi juga segala keadaan dan situasi dimana ada suatu interaksi antara seseorang dengan orang lain dan terjadi pertukaran informasi disana yang menjadikan seseorang yang tidak tahu menjadi tahu. Kali ini saya akan mencoba menjelaskan sedikit tentang salah satu metode pembelajaran yang berdasarkan pada pemecahan masalah.

Menurut UNESCO (Tilaar, 1998:69), “model pembelajaran abad 21 haruslah: “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together”, siswa bukan hanya duduk diam dan mendengarkan. Siswa harus diberdayakan agar siswa mau serta mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajar (learning to do). Interaksi siswa dengan lingkungannya menuntut mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know). Interaksi tersebut diharapkan siswa dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadian untuk memahami kemajemukan, melahirkan sikap toleran positif terhadap keanekaragaman individu (learning to live together).